Aku tidak pernah menyangka bahwa salah satu momen paling
romantis dalam bulan madu kami terjadi di bangku depan mobil sewaan, di pinggir
jalan sepi di Lombok Tengah, sambil makan nasi bungkus yang dibeli dari warung
yang bahkan tidak punya nama.
Tidak ada lilin. Tidak ada musik latar. Tidak ada
pemandangan restoran fine dining yang menghadap laut. Hanya kami berdua,
bungkusan nasi dengan lauk ayam taliwang pedas yang masih mengepul, dan langit
sore Lombok yang warnanya perlahan berubah dari biru menjadi oranye di luar
kaca depan.
Istriku bilang momen itu yang paling dia ingat dari seluruh
perjalanan bulan madu kami. Bukan resort berbintangnya, bukan sunset dinner
yang sudah kami booking jauh-jauh hari. Tapi nasi bungkus di pinggir jalan yang
kami temukan secara tidak sengaja karena kami yang pegang setir dan bebas
berhenti kapanpun kami mau.
Begitulah cara Lombok mengajarkan sesuatu tentang perjalanan
dan tentang pernikahan.
Bulan Madu Itu Bukan Soal Tempat, Tapi Soal Caranya
Sebelum berangkat, kami habiskan beberapa minggu
merencanakan bulan madu dengan teliti. Resort mana, restaurant mana, aktivitas
apa. Semua dipikirkan dengan serius karena ini perjalanan pertama kami sebagai
pasangan resmi dan kami mau semuanya berkesan.
Tapi ada satu hal yang sempat hampir kami lewatkan: bagaimana
kami bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Awalnya kami pertimbangkan untuk ikut paket honeymoon dari
agen wisata. Praktis, tinggal duduk, semua diatur. Tapi semakin kami pikirkan,
semakin kami sadar bahwa itu bukan cara yang kami mau. Kami tidak mau jadwal
liburan kami ditentukan orang lain. Kami tidak mau buru-buru meninggalkan suatu
tempat hanya karena sopir sudah menunggu. Dan kami tidak mau berbagi kendaraan
dengan pasangan lain yang tidak kami kenal.
Bulan madu adalah tentang kami berdua. Dan kami mau itu
terasa dalam setiap detailnya termasuk bagaimana kami berpindah dari satu momen
ke momen berikutnya.
Keputusan akhirnya jatuh ke sewa mobil sendiri. Dan itu
salah satu keputusan terbaik yang kami buat dalam perencanaan perjalanan itu.
Menemukan Layanan yang Tepat
Kami mulai riset beberapa minggu sebelum keberangkatan. Dari
beberapa nama yang kami temukan di forum traveler dan grup honeymoon yang kami
ikuti, Lepas Kunci Lombok cukup
konsisten disebut dengan nada positif bukan hanya oleh backpacker atau traveler
solo, tapi juga oleh pasangan yang honeymoon dan keluarga yang liburan bersama.
Yang pertama kami tanyakan waktu menghubungi mereka adalah
soal kondisi kendaraan dan apa yang bisa kami ekspektasikan. Jawabannya detail
dan jujur mereka tidak asal meyakinkan, tapi benar-benar menjelaskan kondisi
unit yang tersedia, apa yang termasuk dalam harga, dan memberikan beberapa
catatan soal rute yang kami rencanakan.
Cara mereka berkomunikasi dari awal sudah memberi keyakinan.
Penyedia yang jujur sebelum transaksi biasanya juga jujur setelahnya.
Hari Pertama: Bebas Tanpa Terburu-buru
Penerbangan kami mendarat di Bandara Internasional Lombok
siang hari. Biasanya itu waktu yang tidak ideal terlalu siang untuk menikmati
pagi, terlalu awal untuk langsung check-in di banyak resort.
Tapi karena kami punya mobil sendiri, itu bukan masalah.
Dari bandara, kami tidak langsung ke penginapan. Kami
berkendara ke arah selatan dulu mampir di Pantai Kuta Lombok yang sudah lama
kami penasaran. Tiba sekitar pukul dua siang saat pantai masih sepi dari
rombongan wisatawan sore. Duduk di tepi air, melepas sandal, dan membiarkan
ombak kecil yang tenang menyentuh kaki kami bergantian.
Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada jadwal yang
mengancam. Hanya dua orang yang baru saja menikah, di tepi pantai yang baru
pertama kali mereka injak bersama.
Momen itu tidak ada di itinerary yang kami susun. Kami
menemukannya karena kami bebas berbelok kapanpun mau.
Senggigi di Pagi Hari: Kenapa Timing Itu Penting
Hari kedua kami bergerak ke Senggigi. Kami sengaja berangkat
pagi jauh sebelum kawasan itu mulai ramai.
Pantai Senggigi di pagi hari punya suasana yang sangat
berbeda dari sore atau malamnya. Lebih sepi, lebih tenang, dengan cahaya pagi
yang menyentuh permukaan air dari sudut yang tidak akan kamu dapat di waktu
lain. Beberapa nelayan masih merapikan jaring di tepi pantai. Warung kopi di
sudut jalan baru buka dengan uap yang mengepul dari cerek di dapur kecilnya.
Kami duduk di sana lama jauh lebih lama dari yang ada di
itinerary. Tidak ada yang meminta kami buru-buru. Dan di saat kami akhirnya
memutuskan pergi, bukan karena ada jadwal yang menunggu tapi karena kami
sendiri yang siap melanjutkan.
Itulah privilege yang datang dari punya kendaraan sendiri:
kamu yang memutuskan kapan sebuah momen selesai, bukan orang lain.
Bukit Merese: Sunset yang Tidak Bisa Dipesan
Ini yang sudah kami tandai sejak lama di peta: Bukit Merese
menjelang sunset.
Kami tiba sekitar satu jam sebelum matahari turun cukup
untuk naik ke puncak dengan santai tanpa terburu-buru. Dari atas bukit,
pemandangan yang terbuka adalah salah satu yang paling sulit dijelaskan dengan
kata-kata: hamparan savana yang melengkung ke arah laut, dua pantai terlihat
dari sisi yang berbeda, dan langit yang perlahan mulai menyalakan warnanya
sendiri dari barat.
Kami duduk berdua di puncak bukit itu. Tidak banyak bicara.
Kadang memang tidak perlu banyak kata untuk menandai sebuah momen sebagai
sesuatu yang akan selalu diingat.
Matahari akhirnya menyentuh cakrawala. Oranye, merah,
keunguan. Beberapa pasangan lain di sekitar kami juga diam. Seperti ada
kesepakatan tidak tertulis bahwa momen itu terlalu besar untuk diganggu dengan
kebisingan apapun.
Aku pegang tangannya. Dia tidak melepaskan.
Sunset Bukit Merese tidak bisa dipesan di aplikasi manapun.
Tapi kamu bisa memastikan dirimu ada di sana tepat waktu dan untuk itu, kamu
butuh kendaraan yang jadwalnya kamu yang tentukan.
Tanjung Aan: Pagi yang Menjawab Semua Ekspektasi
Pagi hari ketiga, sebelum destinasi ini ramai, kami sudah
ada di Tanjung Aan.
Pasir di Tanjung Aan punya dua tekstur yang berbeda di satu
garis pantai satu bagian halus seperti tepung, bagian lainnya berbutir lebih
kasar berwarna kemerahan. Air lautnya tenang di pagi hari, dengan gradasi warna
dari hijau muda di tepi sampai biru tua di kejauhan yang terasa seperti diatur
oleh seseorang yang sangat memperhatikan estetika.
Tidak ada yang ramai di sana jam tujuh pagi. Hanya beberapa
orang lokal yang jogging di tepi pantai dan satu vendor kecil yang sedang
menata dagangannya.
Kami berjalan tanpa arah di sepanjang garis pantai itu.
Berhenti di titik yang terasa bagus. Duduk waktu ada batu karang yang nyaman.
Melanjutkan waktu kami mau.
Tidak ada yang mengatur kami. Dan itulah yang membuat dua
jam di Tanjung Aan pagi itu terasa seperti salah satu bagian terbaik dari
seluruh bulan madu.
Kenapa Sewa Mobil untuk Bulan Madu Itu Bukan Kemewahan,
Tapi Keputusan Tepat
Aku mau jujur karena beberapa orang yang aku ceritakan soal
ini sempat mengernyit. "Bulan madu kok nyetir sendiri? Nggak capek?"
Jawaban jujurnya: tidak. Justru sebaliknya.
Menyetir di Lombok bukan beban rutenya tidak semacet
Jakarta, pemandangannya selalu ada di setiap ruas jalan, dan sensasi berkendara
di pulau baru bersama pasangan punya kesenangan tersendiri yang tidak bisa
didapat dari duduk diam di bangku belakang kendaraan orang lain.
Yang lebih penting, menyetir sendiri berarti tidak ada pihak
ketiga dalam dinamika perjalanan kami. Tidak ada sopir yang harus kami
perhatikan kenyamanannya. Tidak ada jadwal yang dibuat oleh agen wisata yang
tidak kenal kami. Hanya dua orang yang baru menikah, di pulau yang baru, dengan
waktu yang sepenuhnya milik mereka berdua.
Layanan sewa mobil Lombok yang kami gunakan dari
Lepas Kunci Lombok memberi kami itu semua kendaraan yang bisa dipercaya, harga
yang transparan, dan kebebasan yang tidak ternilai.
Tips Bulan Madu ke Lombok dengan Sewa Mobil
Dari pengalaman kami, beberapa hal ini worth untuk kamu
catat:
Pesan kendaraan jauh hari sebelumnya. Untuk bulan
madu yang sudah punya tanggal pasti, jangan tunda booking kendaraan. Armada
dengan kondisi terbaik paling cepat habis dipesan.
Pilih kendaraan yang kabin dalamnya nyaman. Untuk
bulan madu, kenyamanan interior lebih penting dari sekadar irit bahan bakar.
Perjalanan panjang di kabin yang sempit atau AC yang tidak dingin akan menguras
energi dan suasana.
Berangkat lebih pagi dari yang direncanakan. Hampir
semua spot terbaik di Lombok Tanjung Aan, Bukit Merese, Senggigi jauh lebih
menyenangkan sebelum keramaian datang. Mobil sendiri membuat ini mudah
dilakukan tanpa harus mengorbankan istirahat.
Sisakan waktu tanpa rencana. Ini yang paling penting.
Jangan isi setiap jam dengan destinasi. Beberapa momen terbaik dalam perjalanan
kami justru terjadi di antara destinasi di jalan, di warung pinggir jalan, atau
di bahu jalan dengan pemandangan yang tidak ada di peta.
Konfirmasi layanan antar jemput bandara dari awal.
Begitu mendarat di Lombok setelah penerbangan yang mungkin pagi sekali atau
malam, yang paling kamu butuhkan adalah kendaraan yang sudah menunggu bukan
harus cari-cari dulu di luar terminal.
Lombok Punya Cara Sendiri untuk Membuat Momen Berkesan
Kami pulang dari Lombok dengan memori yang tidak semuanya
bisa di-foto. Momen-momen kecil yang tidak ada di caption Instagram manapun
tapi justru itu yang kami ceritakan ulang paling sering kepada orang-orang yang
bertanya soal bulan madu kami.
Nasi bungkus di pinggir jalan itu, misalnya.
Semua itu terjadi karena kami punya kebebasan untuk bergerak
dengan cara kami sendiri. Dan kebebasan itu dimulai dari satu keputusan yang
kami buat beberapa minggu sebelum berangkat: memesan layanan rental mobil Lombok yang bisa kami
percayakan untuk seluruh perjalanan.
Kalau kamu sedang merencanakan bulan madu ke Lombok,
pertimbangkan untuk mulai dari sana. Kendaraan yang tepat bukan soal mewah atau
tidaknya tapi soal seberapa bebas kamu bisa menikmati setiap momen bersama
orang yang paling penting bagimu.
Lombok sudah menyiapkan semua keindahannya. Sisanya terserah
kamu.